Sekolah menengah pertama negeri di Margaasih, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Tumbuh di Antara
Dua Dunia

Sekolah yang tumbuh di antara kawasan industri dan kehangatan masyarakat Sunda — tempat AKBBAR bukan slogan, melainkan cara sehari-hari warga sekolah saling memperlakukan satu sama lain.

Agamis
Kreatif
Berkarakter
Berprestasi
Aplikatif
Responsif

Ada sesuatu yang khas dari SMP Negeri 2 Margaasih. Sekolah ini tumbuh di tengah lingkungan yang mempertemukan dua suasana yang cukup berbeda. Di satu sisi, ada kawasan industri dengan pabrik-pabrik, suara kendaraan, dan ritme kehidupan yang bergerak cepat. Di sisi lain, masih terasa kuat kehidupan masyarakat Sunda yang lebih guyub, dekat, dan penuh dengan kebiasaan saling memperhatikan.

Anak-anak yang belajar di sini akhirnya tumbuh di antara dua dunia itu. Mereka mengenal lingkungan yang menuntut cepat beradaptasi, tetapi pada saat yang sama masih hidup dalam kultur masyarakat yang mengenal silih asih, silih asah, silih asuh: saling menyayangi, saling mengasah, dan saling membimbing.

Mungkin dari sanalah karakter SMP Negeri 2 Margaasih perlahan terbentuk. Sekolah tidak ingin hanya menjadi tempat anak mengejar nilai, lalu pulang membawa rapor. Ada sesuatu yang lebih penting: bagaimana anak tumbuh menjadi manusia yang punya pegangan, mampu beradaptasi, berani mencoba, dan tetap tahu dari mana ia berasal.

AKBBAR: Agamis, Kreatif, Berkarakter, Berprestasi, Aplikatif, dan Responsif — sekaligus memiliki kepedulian terhadap lingkungan.

AKBBAR bukan sekadar rangkaian kata yang bagus untuk ditulis di dinding atau dokumen sekolah. Ia diupayakan hadir dalam keseharian: dalam pembiasaan keagamaan, budaya 5S, cara guru berinteraksi dengan murid, kegiatan belajar, sampai kesempatan bagi anak untuk mencoba dan menghasilkan sesuatu.

Sekolah Ramah Anak

Di tengah lingkungan yang bergerak cepat, SMP Negeri 2 Margaasih memilih untuk tidak ikut menjadi tempat yang serba terburu-buru. Sekolah ingin menjadi ruang yang cukup nyaman bagi anak untuk tumbuh.

Karena itulah identitas “Sekolah Ramah Anak” menjadi bagian penting dari wajah sekolah. Bukan karena sekolah merasa sudah sempurna, tetapi justru karena sekolah memahami bahwa anak-anak yang datang ke sini membawa cerita yang berbeda-beda. Ada yang datang dengan dukungan keluarga yang kuat, ada yang harus menghadapi persoalan di rumah, pertemanan, lingkungan sosial, atau sekadar sedang berada pada masa mencari tahu siapa dirinya.

“Berapa nilainya?”

Sekolah kemudian tidak cukup hanya bertanya begitu. Ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting:

“Bagaimana anak ini?”

Apakah ia merasa aman? Apakah ia punya tempat untuk bercerita? Apakah ia merasa dihargai? Apakah ketika melakukan kesalahan ia masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri? Dalam konteks itulah keramahan menjadi lebih dari sekadar senyum dan salam. Ia menjadi cara sekolah memperlakukan anak.

Nilai-nilai Sunda yang dekat dengan kehidupan masyarakat sekitar ikut memberi warna. Guru tidak hanya ditempatkan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai orang dewasa yang menemani anak melewati masa pertumbuhannya. Budaya 5S menjadi salah satu kebiasaan sederhana untuk membangun suasana tersebut. Sederhana, tetapi justru hal-hal semacam inilah yang sering kali menentukan apakah seorang anak merasa diterima di sekolah atau tidak.

Di sini pula peran guru Bimbingan dan Konseling menjadi penting. Tidak semua persoalan anak bisa diselesaikan dengan teguran, nilai tambahan, atau hukuman. Ada kalanya seorang anak membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan terlebih dahulu. Karena itu, pendekatan BK tidak berhenti pada urusan pelanggaran atau masalah belajar, tetapi juga menjadi ruang pendampingan ketika anak menghadapi persoalan sosial dan emosional.

Guru yang Terus Belajar

Sekolah tentu tidak bisa berbicara tentang masa depan anak kalau gurunya sendiri berhenti belajar. Guru-guru di SMP Negeri 2 Margaasih datang dari generasi dan pengalaman yang beragam. Ada yang sudah lama mengajar dan membawa pengalaman panjang di ruang kelas. Ada pula guru-guru yang lebih muda, yang lebih dekat dengan perkembangan teknologi dan kebiasaan belajar generasi sekarang.

Perbedaan itu bukan untuk dipertentangkan. Justru menjadi kekuatan ketika pengalaman dan energi baru bisa saling melengkapi. Berbagai pelatihan, forum MGMP, Platform Merdeka Mengajar, dan ruang belajar lainnya menjadi bagian dari usaha guru untuk terus menyesuaikan diri. Sebab murid berubah, teknologi berubah, dan cara anak memahami dunia juga berubah. Guru pun mau tidak mau harus ikut bergerak.

Belajar dengan Apa yang Ada

Dari sisi sarana dan prasarana, sekolah juga masih berhadapan dengan kenyataan yang tidak selalu ideal. Keterbatasan lahan menjadi salah satu persoalan yang harus dihadapi. Ruang yang tersedia harus digunakan sebaik mungkin agar tetap dapat melayani kebutuhan belajar yang terus berkembang.

Namun sekolah tidak ingin menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk berhenti berbuat. Ruang-ruang yang ada terus dimaksimalkan. Laboratorium komputer, misalnya, bukan sekadar ruangan berisi perangkat, tetapi menjadi salah satu ruang penting untuk memperkenalkan anak pada dunia digital yang semakin dekat dengan kehidupan mereka.

Barangkali memang belum semuanya sempurna. Tetapi sekolah terus bergerak, sedikit demi sedikit. Dan mungkin memang seperti itulah perjalanan sebuah sekolah: tidak selalu tentang gedung yang besar atau fasilitas yang lengkap, melainkan tentang bagaimana orang-orang di dalamnya mampu membuat ruang yang terbatas tetap menjadi tempat yang berarti bagi anak-anak.

SMP Negeri 2 Margaasih tumbuh di antara suara pabrik dan hangatnya kehidupan masyarakat Sunda. Ia berada di tengah perubahan zaman, tetapi tidak ingin kehilangan akar budayanya.

Di tempat inilah anak-anak belajar bahwa masa depan tidak harus berarti meninggalkan asal-usul. Mereka boleh menjadi generasi yang akrab dengan teknologi, berani berkreasi, mampu bersaing, dan responsif terhadap perubahan, tetapi tetap membawa nilai kesantunan, kepedulian, dan kebersamaan. Sebab pada akhirnya, sekolah bukan hanya tentang menyiapkan anak untuk menghadapi dunia — sekolah juga tentang memastikan bahwa ketika anak-anak itu tumbuh dan suatu hari benar-benar masuk ke dunia, mereka masih membawa sesuatu yang baik dari tempat mereka pernah belajar.